Tuesday, July 27, 2004

POETRY

masihkah gelombang di hatimu
setelah kau menggetarkan hatiku

   
lima tahun disini
angin laut cina selatan masih terasa membaui
sekujur tubuh
menggarami setiap tulang-tulang juga persendian
kesendirian masih tersisa
menyelimuti bagai embun menjelang fajar

ada jurang yang sering kunikmati antara kita
membuat nelangsa
membekukan setiap kata-kata
tiada bunga tiada tersurat
lalu menjadi tanda
dan keraguan adalah milikku

pernah kutanyakan,"Dimanakah letak Timur dan Barat?"
di atas bumi yang bulat
sebulat-bulatnya keyakinan untuk tetap hidup

"Dalam sembilan hatiku," jawabmu
di dalam hati bumi yang luas
seluas-luasnya keraguan untuk tetap mencintai

kunikmati sisa situs makna yang buram
lalu menyimpannya
dalam mimpi
sebab hanya itu yang aku punya


 
Bandung, 16 Juli 2001
01.00 setelah deathline

POETRY

Dear Zarathusra

aku sedang mengayuh atas biduk kecilku
dalam setiap putaran waktu
gelombang panas dan dingin
terombang-ambing di tengah lautan
tak berarah
bimbang terkutuk
siang aku punya matahari
malam kumiliki bintang
jemput aku zarathusra


Bandung, 26 Oktober 2000

poetry

Aku  Tidak Ingin Mencintaimu Sepenuh Hati

Oleh : Frino Bariarcianur

aku tidak ingin mencintaimu sepenuh hati
tapi bagaimana bisa
telah kucoba membunuhnya dengan senjata mutakhir
dari senjata kimia, bom atom juga molotov
beramunisi jiwa yang murka
masih aku berasa

aku tidak ingin mencintaimu sepenuh hati
tapi bagaimana bisa
sebab langit masih biru tidak merah seperti darahku
yang mendidih setiap waktu
melihat rona di wajahmu

aku tidak ingin mencintaimu sepenuh hati
tapi bagaimana bisa
dari luar musik distorsi sesak ditelinga
menaikkan adrenalin yang membuatku gila
semakin

aku tidak ingin mencintaimu sepenuh hati
tapi bagaimana bisa
kemiskinan yang ada tidak berarti
dalam sorot matamu
padahal telah kumatikan seluruh jiwa

aku tidak ingin mencintaimu sepenuh hati
tapi bagaimana bisa
kemunafikan dan ilmu sihirku telah punah
hancur oleh suaramu

aku tidak ingin mencintaimu sepenuh hati
tapi bagaimana bisa
untuk tak memandangmu pun
aku tak bisa


 
Bandung, 7 November 2001
Setelah deathline di Redaksi Surabaya Post Bandung

ESSAY

Realitas Seni Dalam Dunia Hiper-realitas

Oleh : Frino Bariarcianur 

Melihat perkembangan teknologi mutakhir abad 21, khususnya apa yang disebut sebagai teknologi simulasi, mengakibatkan terjadinya perubahan pandang dunia manusia secara besar-besaran. Dengan teknologi simulasi ini khususnya teknologi informasi dan cyberspace manusia telah mampu menciptakan berbagai realitas baru.

Realitas baru ini disebut ‘hiper-realitas dan ‘realitas virtual. Bila sebelumnya manusia dibatasi oleh berbagai kendala metafisis, transendental atau teologis, yang di dalamnya manusia tidak dapat menjangkau dunia yang ‘malampui’  fenomena fisik, maka lewat teknologi—khususnya teknologi cyberspace—berkembang berbagai klaim, bahwa manusia kini justru bisa ‘memasuki’, ‘menjelajah’ dan ‘hidup’ di dalam dunia transenden, metafisik dan teologi tersebut. Sehingga batas antara fisik/metafisik, trnasenden/imanen, antropologis/teologis kini tampak semakin melebur. semuanya bisa terjadi. Karena dengan kecanggihan teknologi setiap orang dapat menciptakan realitasnya sendiri yang dapat pula dikonsumsi oleh orang banyak.

Maka setidaknya ada tiga kategori ‘realitas’ yang dihadapi atau direpresentasikan dalam seni sekarang: pertama, realitas ‘transendental’, khususnya realitas-realitas ketuhanan. Realitas ini direalisasikan ke dalamb berbagai bentuk seni, yang di dalam sebuah ruang yang disebut ‘ruang spiritual’ (spiritual space). Kedua, realitas imanen, yaitu realitas permukaan yang bersifat konkrit. Realitas ini merupakan fenomena ruang fisik yang dapat dijangkau oleh kemampuan perseptual dan kognitif manusia. Ketiga, ‘realitas melampui’ yaitu realitas yang melampui prinsip alamnya sendiri. Diantaranya termasuk fenomena ‘realitas virtual’ (virtual reality), yaitu realitas yang tercipta dari halunisasi yang terbentuk dari ruang data di dalam komputer.

Perkembangan teknologi simulasi, seperti yang dijelaskan oleh Jean Baudrillard di dalam Simulation, telah menggiring masyarakat kontemporer pada sebuah kondisi, dimana realitas telah diambil oleh ‘model-model’ atau ‘simulasi realitas’.Sebenarnya hiper-realitas ini tidak merujuk pada realitas sesungguhnya yang umum dialami oleh manusia.

Simulasi mengancam lenyapnya perbedaan antara yang benar dan yang salah, yang asli dan yang palsu, yang nyata dan yang imajine. Simulasi adalah penyempurnaan segala sesuatu lewat teknologi, sehingga ia melampui kondisi aslinya. Di dalam hiper-realitas dunia tidak bersifat dialektik, malah sebaliknya ia menuju ke arah ekstrim yaitu ke arah superlatif : Ia lebih nyata dari kenyataan itu sendiri, lebih cantik dari kecantikan itu sendiri, lebih benar dari kebenaran itus sendiri atau lebih buruk dari keburukan itu sendiri.

Di dalam dunia hiper-realitas terjadi proses dorong-mendorong sistem atau konsep atau argumen menuju titik ekstrim, dimana sampai pada satu titik setiap sistem, konsep atau argumen tersebut telah kehilangan logika. Informasi, misalnya, berkembanga ke dalam berbagai wujud barunya sebagai “boom informasi”, yang melampaui alam, sifat atau tapal batas total yang seharusnya tidak ia leawati, yang akhirnya menghancurkan obyektif dan tujuannya sendiri.

Hiper-realitas juga merupakan satu bentuk dari apa yang disebut ‘modernitas radikal’, yaitu modernitas yang merealisasikan dan mematrealisasikan segala sesuatu yang selama ini dianggap bersifat utopis. Segala bentuk utopia telah tercapai dalam dunia hiper-realitas. Tidak ada lagi daerah angan-angan, tidak ada lagi tanah impian, oleh karena semuanya diasumsikan bisa dicapai, direalisasikan dan dapat dimatrealisasikan.

Seiring dengan perubahan cara pandang dunia manusia, seniman kini berpaling dari fenomena jiwa dan ruh, dan menaruh perhatian besar pada fenomena tubuh dan zat, dari dunia transenden ke arah dunia imanen. Subyek manusia –yang kini semakin menyadari otoritas yang mereka miliki atas pengetahuan dan alam—kini berupaya membebaskan diri mereka dari otoritas-otoritas transendental (mitos, alam, Tuhan). Dengan perkataan lain, perhatian seniman kini secara berangsur-angsur beralih dari apa yang disebut sebagai “ruang spiritual” ke arah apa yang dipahami sebagai “ruang fisik”.

Ketertarikan terhadap dimensi-dimensi fisik ini telah menjauhkan seniman dari semangat teosentrisme abad pertengahan. Gaya baru lukisan yang dipelopori oleh Giotto dan penerusnya mereflesikkan ketertarikan pada dunia fisik ini. Seniman tidak lagi melihat dunia obyek sebagai refleksi dari Tuhan, akan tetapi secara intensif menyelidiki secara empiris terhadap apa yang mereka betul-betul lihat secara konkrit.

Obyek-obyek tersebut direpresentasikan secara lebih ilmiah dan empiris, berdasarkan ukuran dan penilaian seniman sendiri, ketimbang era sebelumnya, yang sangat bergantung pada kanon-kanom keagamaan. Meskipun Giotto masih melukiskan subyek-subyek religius, ia kini secara lebih mendalam menaruh perhatian pada prinsip-prinsip bentuk fisik.

Bagaimanapun dunia hiper-realitas dan realitas virtual telah menimbulkan pergeseran pemahaman ke setiap sendi kehidupan. Khsusus di dalam dunia seni, keberadaan dunia tersebut telah memperluas pemahaman dan pengertian mengenai apa yang disebut sebagai seni atau karya seni. Dunia hiper-realitas juga dunia virtual telah memungkinkan pula penjelajahan ke dalamb berbagai kemungkinan baru ekspresi seni, yang sebelumnya tidak dapat dibayangkan di dalam dunia nyata atau realitas konkrit.

Meski menawarkan berbagai ‘realitas baru’ yang menjanjikan, dunia hiper-realitas dan realitas virtual pada kenyataannya mengandung berbagai resiko, khususnya resiko ketidakpastian makna, kemustahilan kebenaran (truth), dan disinformasi, disebabkan kondisi tanpa identitas, tanpa teritorial dan tanpa otoritas membangunnya. Salah satu problematika di dalam dunia hiper-realitas adalah meluasnya ‘kebrutalan tanda’. Pemerkosaan terhadap gambar, hibirida visual yang tidak terkendali, pemutarbalikkan fakta, perusakan ikon-ikon pada situs, simulakrum media.

Ada semacam permainan bebas tanpa aturan sedikit pun di dalamnya, yang tanpa peduli dengan makna yang ditawarkannya bagi sebuah kehidupan sosial yang bermakna. Anda seniman, sudah siap menjalani hiper-realitas itu?

(disarikan dari makalah Yasraf Amir Piliang berjudul "Rimba Raya Dunia Maya" dalam simposium “Menimbang Globalisasi Sebagai Masalah Pemampatan Ruang-Waktu di Museum Geologi Bandung, 2/9/2001)
                 

 

 

Mewangilah Bunga-Bunga Seperti Dulu

Mewangilah Bunga-bunga Seperti Dulu
 
                                                             Untuk Haryoto Kunto
 matahari
masih seperti dulu, tetap bersinar
sama sewaktu kau mengorek-ngorek kota ini

Braga, Asia-Afrika, Taman Maluku, Sukamiskin, Cikapundung
masih ada sisa-sisanya

sayang
semerbak bungamu yang kau cium
tak lagi wangi alami


Bandung, 25 September 2001

tangis

begitulah adanya kesendirian ini
dibuai oleh lagu suaramu, Ima
mendengarmu,

tangisku tak berair lagi

13 Maret 2001

Friday, July 23, 2004

poetry

untitled

ada satu ide katakan lucu
seperti dunia yang tak seperti satu
pada satu hari menjelang malam
dengan lampu-lampu iklan yang mulai menyerang rindu
saatnya
angin membawa bau tubuhmu
yang mampu menghentikan begitu saja
apa yang sedang kukerjakan
tapi kau lewat begitu saja
bagai kapas yang terbang di padang ilalang mimpi
 
aku ingin menjadi coklat hari itu
ide standard dan sengaja kubuat lucu dan kuberitahu
 
lalu...
(23/07/04)

 

Monday, July 19, 2004

untitled

Wednesday, July 07, 2004

visual arts

Mural Mulawarsa 2003
Farhan, ”Dan Semua Tampak Bermuka Manis”


Oleh
FRINO BARIARCIANUR

Judul di atas saya comot dari tembok tempat di mana tulisan itu berada. Dengan huruf bersambung, tulisan tersebut dapat kita temui pada tembok Jl. Martadinata seberang sebuah bangunan bank swasta di Bandung. Tidak hanya tulisan itu saja yang menarik, gambar-gambar yang memenuhi tembok itu pun tak kalah dalam memancing perhatian. Tapi apa maksudnya?

Adalah Farhansiki atau yang lebih dikenal Farhan laki-laki usia 31 tahun yang membuat teks dan gambar-gambar mencolok itu. Ia termasuk salah satu perupa yang berkarya di ruang publik khususnya mural (lukisan dinding). Ia pernah melakukan hal serupa di Jakarta lebih-lebih di Yogyakarta tempat di mana ia bereksplorasi habis-habisan bersama kelompok Apotik Komik.

Di Bandung sendiri, ini kali keempat ia ”bermain” di ruang publik. Pertama ia tampil pada acara Bandung Art Event, 2001 dengan judul Sekutu Sespecies. Kedua ia menggambari tembok di lorong Gramedia Bandung dengan judul Pseudo bla..bla..bla. Ketiga bersama teman-temannya di Kopipait Art Society dan 1011 Visual Ar saat menggambari tiang-tiang listrik dan rambu lalu lintas dengan gambar bunga. Return to Kota Kembang demikian kegiatan itu diberi nama.

Apa yang dikerjakan oleh Farhan adalah salah satu bentuk karya rupa yang dikenal dengan mural. Berasal dari bahasa Latin murus yang berarti dinding. Jadi mural adalah lukisan yang dibuat pada dinding. Ekspresi seni ini setidaknya telah ada 30.000 ribu tahun lalu, awalnya dijumpai pada dinding-dinding gua. Lukisan dinding tertua di Altamira, Spanyol atau Lascaux, Prancis misalnya menggambarkan aktivitas perburuan dan ritual kehidupan.

Sementara itu sekitar tahun 1920-1930-an, di Meksiko mural dijadikan salah satu alat propaganda politik yang cukup mumpuni di masa-masa revolusi. José Diego Rivera Barrientos atau yang lebih dikenal dengan Diego Rivera, suami pelukis Frida Kahlo, adalah salah satu tokohnya yang berperan besar membawa lukisan dinding sebagai salah satu karya rupa yang diperhitungkan dalam sejarah seni rupa dunia.
Balik lagi ke Farhan. Mungkin Farhan termasuk orang yang cepat bosan. Karena itu di atas lukisan dindingnya, ia menggambar lagi. Tak syak lagi, sejak tanggal 5 Januari lalu lukisan dinding ”Sekutu Sespecies” hilang dari mata orang yang telah akrab sejak tahun 2001. Beruntung Farhan memiliki dokumentasi yang rapi.

Kenapa ia mau menggambari lukisannya lagi? Farhan merasa lukisannya sudah membosankan dan ia memiliki tanggung jawab untuk mengubahnya segera, ”Publik sudah bosan dengan karya saya, jadi perlu sentuhan baru dan menyegarkan bagi publik,” ujar laki-laki berkulit hitam itu saat ditanya.

Tidak cukup sampai di situ, ”Kalau toh akhirnya lukisan ini ada yang mencorat-coret karena nggak suka, ya itu risiko. Ini konsekuensi logis yang harus diterima oleh siapa pun yang bermain di ruang publik. Tembok ini bukan milik saya tapi milik publik.” Jadi menurut Farhan siapa pun yang mencoba-coba ”bermain” di ruang publik akan selalu berhadapan dengan berbagai risiko. Dan tentunya lukisan yang ia buat pun sangat terbuka untuk direspons oleh siapa pun.

Lukisan dinding karya Farhan memiliki tiga bidang dengan ukuran kurang lebih 2,5 X 9 M. Ada tiga warna yang mencolok Merah, Kuning dan Biru. Di satu bidang terdapat gambar orang yang seperti sedang mengintip. Di wajahnya terdapat banyak bunga namun di setiap bunga terdapat gambar-gambar ulat. Bunga-bunga itu seperti menutupi ulat-ulat tersebut. Begitu juga dengan gambar buah, daun dan gambar wajah lainnya, selalu ada gambar ulat. Dengan gambar dan warna-warna yang mencolok yang tampak ”manis”, di gambar itu pun sebenarnya terdapat kesan mengerikan. Mungkin Anda bisa membayangkan jika hal itu terjadi pada wajah Anda?
Mungkin pada lukisan dinding awal tahun (mulawarsa) 2003 ”Dan Semua Tampak Bermuka Manis” tersebut Farhan sedang merepresentasikan tentang fenomena masyarakat kontemporer yang berlagak manis padahal buas, pura-pura nggak ada apa-apa padahal menyimpan seribu problema. Tampak riang gembira padahal dalam kondisi kesakitan persis seperti kondisi bangsa ini yang tampak nyaman-nyaman saja, adem ayem saja di tengah sakit akut dan ancaman gulung tikar di tengah ancaman globalisasi.

Lalu kata Farhan, ”Semua saya nyatakan dengan visual yang ‘bagus’ (ia meminjam impresi orang-orang yang bilang lukisannya ‘Alus pisan euy!’) dan cukup representatif bagi sebuah atmosfer urban seperti Bandung yang cuek, modis, Paris van Java dan sebagainya.”
Hal-hal yang tampak ”bagus” itu kemudian secara halus ia kritik. Ia seperti ingin mengajak penikmat lukisannya untuk kembali mencermati yang terjadi dalam diri manusia. Tapi ia bukan alim ulama yang sanggup mengatakan hal-hal yang benar atau salah secara lugas. Atau mengatakan, ”begini lo yang benar.” Sebagai seorang seniman Farhan hanya mengeluarkan segala uneg-unegnya dalam bentuk rupa yang kadang sulit untuk diterjemahkan.
Bagi peraih Saraswati Prize dari Walikota Denpasar (1997) ini, berkarya di ruang publik sangat mengesankan. Harus pintar-pintar berstrategi dan bereksperimen, jika tidak tentu apa yang dilakukan Farhan akan bertabrakan dengan konsensus yang berlaku. Begitu juga dengan visualisasi wilayah di mana lukisan dinding dibuat. Saat menggambari tembok ia terlebih dulu berdialog dengan orang-orang setempat dalam membaca, menandai dan memaknai sebuah ruang dengan segala isi dan fenomena yang terjadi di tempat di mana ia akan berkarya. Ini sebenarnya untuk memudahkan proses berkarya di ruang publik.

Di sisi lain, karya seni di ruang publik menurut Farhan akan kehilangan kesakralannya, ia tidak lagi high art, adiluhung seperti di galeri atau museum yang setiap pengunjungnya sudah berbekal asumsi bahwa apa pun yang dilihatnya nanti adalah karya seni yang high-art meski itu seonggok sandal jepit yang di-displayed manis saja. Di ruang publik inilah seni high-art atau monumental sekalipun akan menemui ajalnya. Di ruang publik seorang perupa yang sangat terkenal sekalipun bisa dikejutkan bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa di tengah masyarakat luas, ia hanyalah orang biasa dan hanya memfasilitasi terjadinya pertemuan bersama.

Dan kata Farhan lagi,”Ini adalah risiko bagi seorang seniman yang bermain di ruang publik, ia harus mendatangi, menyapa dan berbagi dengan publik. Jika tidak, mundur saja, sendiri di kamar dan bersiap menjadi SAMO (same old s***), begitu kata Jean Michelle Basquiat.”


Penulis adalah penikmat karya seni dan pelaku seni rupa pertunjukan di ruang publik


* Pernah dimuat di Koran Sinar Harapan, 2002 (maaf lupa tanggalnya)

Saturday, July 03, 2004

visual arts

Daming dan 2568 Pas Foto KTP


Oleh : Frino Bariarcianur


Klik! Dunia fotografi itu ditekuni oleh Daming Agus sejak tahun 1995 secara otodidak. Klik! Daming kerap hadir untuk mendokumentasikan setiap event-event kesenian di Bandung, ia juga memotret karya-karya seniman. Klik!Dari sekian lama prosesnya menggeluti dunia fotografi, kini ia menyuguhkan sekitar dua ribu lima ratus enam puluh delapan pas foto. Klik! Apa yang ditawarkan Daming?

Karya foto yang ditampilkan Daming pada pameran bertema ID adalah pas foto penduduk Kecamatan Tanjungsiang, Subang, Jawa Barat. Daming mendapatkan proyek ini untuk keperluan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Foto-foto berukuran 4 x 6 cm, ada pula yang berukuran 3 x 4 Cm. Semuanya ditempel di dinding Galeri Fabriek Bandung (sekaran Galeri ini almarhum, hiks). Keseluruhan foto dicetak hitam putih.

Dalam pernyataan tertulisnya Bambang Subarnas, kurator pameran ID, mengetengahkan beberapa pertanyaan mendasar dari hasil foto Daming. Mungkinkah ini sebagai representasi antropologis masyarakat Tanjungsiang? Mungkinkah ini sebuah refleksi filosofis antara kedirian dan ke-masyarakatan? Ataukah ini sebuah fenomena visual dalam lembaga seni?

Apa yang dilakukan Daming saat ini memang banyak menawarkan diskursus yang menarik untuk kemudian dijadikan referensi dalam berbagai hal seperti yang diutarakan oleh Bambang. Foto-foto ini juga seperti ingin mengingatkan kembali pada kita tentang ragam budaya berikut ragam permasalahan di Indonesia, khususnya di daerah Subang.

Sekurang-kurangnya kita tahu, dengan foto yang ditampilkan oleh Daming bahwa memiliki KTP atau kartu identitas (kartu nama) itu masih penting bagi sekian banyak orang sebagai anggota masyarakat, institusi atau warga negara. Alih-alih ada pernyataan yang cukup lugas bagi pemegangnya yakni eksistensi.

Hal lainnya bahwa tugas memotret atau mendokumentasikan itu juga sama pentingnya dengan orang yang sedang ber-peristiwa. Bukan sekedar pelengkap saja. Kalau melihat kenyataan sekarang khususnya di Indonesia masih banyak yang menganggap kerja pendokumentasian tidak begitu penting. Salah satu contoh yang sering terjadi ketika orang ingin melakukan penelitian. Banyak sumber yang tidak dapat tergali atau hilang tak berbekas. Sehingga pada titik ekstremnya dengan sumber data (baca: dokumen) yang terbatas menyebabkan hasil penelitian menjadi sulit dipertahankan.

Berhadapan dengan karya Aming, foto-foto itu pada awalnya dimaksudkan untuk dokumen penting bagi seseorang namun ternyata hasil pendokumentasiannya itu dapat pula menjadi barang berharga di wilayah lain, seni misalnya. Berkaca dari apa yang dilakukan oleh Daming seperti kata pepatah, sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui. Bukankah ini patut diacungkan jempol?

Kembali lagi ke foto Daming. Lihatlah foto itu dengan teliti. Kita bisa tersenyum sendiri melihat orang-orang yang terekam dalam lensanya. Kemudian membayangkan bagaimana saat Daming sekiranya harus mengatakan,”lihat ke kamera”, “senyum”, “satu..dua..tiga…” –seperti yang dilakukan banyak fotografer—untuk ribuan orang! Sepertinya mudah. Klik! Alhasil tetap saja ada yang melihat ke samping. Ada yang melihat ke bawah dan tidak sedikit matanya yang terpejam.

Pada salah satu foto misalnya, terlihat seorang nenek tua berumur kurang lebih 60 tahun yang memandang –lensa Daming—dengan mata yang lugu. Kerutan di sekitar dahi, mata, maupun pada bagian leher yang urat-uratnya terlihat jelas. Dengan pipi yang peot dan kondisi seperti itu, nenek tampak kurus. Nenek itu mengenakan baju tradisional, kebaya Sunda. Khas gambaran nenek-nenek.


Sementara background foto tercetak gorden bermotif bangau terbang.
Kiranya kita hanya bisa menduga-duga apa yang dialami nenek itu selama hidupnya. Apakah dia bahagia, menderita, atau tidak memiliki permasalahan sedikitpun –tentu tidak mungkin--. Kita hanya menduga apakah foto-foto yang dibuat oleh Daming benar-benar dapat menyentuh rasa kemanusiaan, sama seperti para fotografer yang mendapatkan pulitzer saat merekam sebuah peristiwa. Yang menginginkan fotonya bicara tentang perang, perdamaian, kemiskinan dsbnya.

Saat foto-foto itu terpajang di Galeri Fabriek yang berukuran 9.5 x 17 meter (161 m2), ruangan tetap lengang. Hanya angin membentur atap yang menimbulkan suara. Seperti ingin menyembunyikan ribuan permasalahan dari setiap orang dalam foto. Diantara ribuan foto itu ada senyum yang polos tapi ada pula senyum yang dipaksakan, ada derita yang ditutupi tapi ada pula yang jelas kentara. Ada kenyataan yang direkayasa di depan kamera.

Disamping Daming, pameran ID juga menampilkan karya-karya Hari Pochang. Salah satu pendiri Rumah Nusantara –salah satu tempat kegiatan kebudayaan di Bandung– yang memotret sejak tahun 1982 ini menyuguhkan foto-foto boneka kayu. Foto Mannequin Project 1-7 itu dicetak digital dengan ukuran 112 x 75 cm. Kang Pochang dapat juga dibilang salah seorang dokumentator senior kegiatan seni di Bandung.

Namun berbeda dengan Daming tulis Bambang, Harry Pochang, justru memulai karyanya dari tema. Oleh karenanya keputusan karya yang tampil pada pameran ini berada dalam kerangka referensi Pochang tentang identitas. Dalam perkiraan Bambang bisa dipastikan bahwa identitas yang dikerangkakan oleh Pochang cukup kompleks.

Dengan menampilkan foto boneka kayu –yang biasa digunakan untuk pelajaran argonomi dalam disain produk—diandaikan dapat menunjukkan sifat sifat industrial, matematis, sexless, nobody dll, sebagai kontras bahkan oposisi dari human dan identitas human. Selain tema, ukuran dan jumlah karya kedua fotografer (seniman) juga turut mengkontraskan satu dengan yang lainnya.

Dengan kondisi seperti ini penikmat seperti diajak untuk melompat-lompat ke dalam pikiran fotografer yang kemudian mengaitkan dengan kehidupannya masing-masing. Mengutip lagi pernyataan tertulis Bambang, akan semakin kompleks.

Pertautan Fotografi dan Seni Rupa
Mentautkan fotografi dengan seni rupa, fotografi baik secara konseptual maupun secara material dalam sejarah seni rupa modern pernah dipandang ‘bukan’ seni rupa (fine art). Jejak pandangan tersebut masih terasa bahkan masih menjadi pandangan umum hingga saat ini (terutama dari kalangan fotografer).

Kini, ketika dasar-dasar seni rupa modern ditinjau lagi secara kritis baik landasan filosofis, kategori-kategori seni, hierarki estetik, dan juga medium seni rupa, fotografi mendapatkan tempat seimbang dengan karya-karya seni yang lain. Memang perjuangan yang sangat berat untuk memasukkan teknologi canggih seperti fotografi dalam narasi besar dunia seni, khususnya seni rupa. Ini juga berlaku pada seni-seni yang lain. Tapi kenyataannya segala konvensi ataupun tradisi selalu berubah seiring dengan cara pandang manusia terhadap dunianya.

Di Bandung sendiri, pameran fotografi yang bertautan dengan seni rupa telah beberapa kali dilakukan, sebut saja seniman Jepang Yasumasa Morimura, Gerhald Richter, Seno Gumira Ajidarma dan sebagainya. Selain pameran tunggal pernah beberapa kali juga diadakan pameran bersama seperti yang dilakukan oleh para ahli biologi Prancis di Galeri Soemardja dan sebagainya, ini membuktikan bahwa dunia fotografi tidak dipandang lagi sebagai sesuatu yang sifatnya pelengkap saja. Klik!

performance art

Fake Beauty Sebuah Visualisasi Kemarahan Sperma?

Oleh : Frino Bariarcianur

Anggaplah kantong plastik besar itu adalah kondom dan laki-laki di dalamnya adalah sperma yang meronta-ronta ingin keluar mencari ovum. Sperma itu tertahan dan berputar-putar di dalam kondom. Geraknya pelan dan kesakitan. Inilah visualisasi seni rupa pertunjukkan (performance art) yang dilakukan oleh Yoyoyogasmana berjudul “Fake Beauty”. Apakah yang ditawarkan Yoyo kali ini?

Kantong plastik besar itu dipenuhi dengan ranting-ranting kering dan ranting bambu. Kantong itu juga diisi dengan air. Sementara Yoyo yang bercelana renang meronta-ronta di dalamnya. Wajahnya kabur saat menempel di plastik. Di atasnya air terus mengalir mengisi kantong. Tak lama kemudian beberapa penonton mulai merespon Yoyo dengan mengambil tali kemudian melilitkannya pada plastik. Yoyo terjepit, tercekik, dan napasnya satu-satu. Penonton mulai panik.

Bicara soal kondom, ee maksud saya plastik besar tadi mengingatkan pada kehidupan kita sekarang yang telah dipenuhi dengan barang-barang ‘plastik’ (tiruan) dan menjadi bagian yang sulit untuk dipisahkan. Pada saat kita makan misalnya harus membuka plastik, minum kopi juga membuka plastik, sampai untuk membuat wajah cantik pun kita menamainya bedah plastik. Dari plastik yang berbentuk kantong misalnya, kita bisa membungkus sebuah cinderamata, membungkus buku, membungkus buah, dan membungkus mayat. Pada peristiwa pembunuhan bukankah mayat-mayat seringkali ditemukan di dalan kantong plastik juga? Pendek kata, sejauh kita memandang sedekat kita meraba, plastiklah yang ada.

Secara filosofis ‘plastik’ sangat memungkinkan untuk membungkus keaslian yang tidak kita kehendaki. Bahkan kita dapat membungkus kematian itu sendiri. Inilah yang saya maksud bahwa Yoyo tidak saja ingin menyoal lagi apa itu keindahan dari tubuhnya yang sakit terlilit tali. Lebih dari itu bahwa performance art ini juga menyoal bagaimana tubuh yang ‘plastik’ itu telah menindas dan menipu tubuh yang lain. Di sini saya ingin menyatakan bahwa disisi lain penggunaan kondom itu juga dapat dikategorikan sebagai prilaku penindasan. Dan tubuh tertindas yang dimaksud adalah sperma itu sendiri.

Sperma itu sendirian di dalam kondom. Dalam proses pembentukan tubuhnya yang tak lazim, ia dicampur dengan ranting-ranting kering juga ranting bambu sedikit dicampur air. Itu dilakukan demi menciptakan manusia yang indah dilihat. Selama pemerosesan sperma terus meronta dan berjuang mati-matian ingin lepas dari proses yang menindas itu. Sayang ia tak memiliki suara dan manusia (penonton) masih terus melilitkan tali pada kondom. Sperma itu mulai melemah.

Di luar pertunjukkan tersebut, dalam kehidupan manusia, pada titik orgasme kita tak pernah tahu bagaimana reaksi milyaran sperma –yang kata ahli kedokteran akan mati selang dua jam—saat berada di dalam kondom. Bukankah secara alamiah sperma itu seharusnya berenang masuk ke rahim dan berlomba-lomba bertemu ovum? Nyatanya ia tidak bertemu dengan ovum malah dicampur dengan bermacam-macam barang. Katakanlah jika sperma itu memiliki keinginan maka itu hanyalah mimpi. Dan mungkin saja seperti itulah visualisasi kemarahan sperma yang tak bertemu ovum.

Sperma itu pasrah saat banyak manusia campur tangan dalam proses pembentukannya sebagai manusia. Ia benar-benar tak berdaya. Akhirnya kondom yang terikat erat itu pecah –seperti ketuban bayi yang lahir—lalu beberapa orang membuka satu demi satu, sobekan demi sobekan plastik yang membungkus manusia yang diinginkan indah. Secara samar mulai terlihat manusia hasil dari proses gila itu. Tubuhnya dipenuhi dengan ranting-ranting dengan lilitan tali yang mencekat peredaran napasnya. Terlihat indah(?) tapi tubuh itu kesakitan! Manusia yang menyaksikannya bertepuk tangan. Prosesi ini telah berhasil seratus persen.

Seni rupa pertunjukkan berjudul “Fake Beauty” yang disuguhkan oleh penggerak Bandung Performance Art Community (B+PAC) ini digelar dua kali di Selasar Sunaryo Art Space Bandung, (26-27/7). Menurut Yoyo, ia harus melakukannya karena pada pertunjukkan pertama ia belum mendapatkan “orgasme”. Katakanlah pada pertunjukkan awal, masih ada kesalahan teknis seperti kantong yang terlalu cepat pecah.

Belum lagi kedua anaknya si Mahesa Jiway (7) dan Arya Syahjenar (4) yang tidak mau diajak ber-performance art karena lebih tertarik dengan video game. “Ya sudah, saya tidak memaksa,” kata Yoyo. Pada pertunjukkan pertama kedua anak ini memang cukup piawai memainkan perannya. Bisa jadi mereka menganggap bahwa performance art tak ubahnya seperti bermain. Alangkah menyenangkan.

Pada pertunjukkan ke dua memang tidak jauh berbeda, hanya saja lebih interaktif. Ini terlihat dari penonton yang antusias melilit tubuh Yoyo. Efek kesengsaraan dan kesakitan itu pun lebih jelas terlihat. Sejak awal seniman seni rupa pertunjukkan yang seringkali bermain dengan tali ini memang berniat memanas-manasi penonton untuk melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Akibatnya ada bagian tubuh Yoyo yang lecet dan terluka.

Keterlibatan emosi dan respon destruktif penonton dalam seni rupa pertunjukkan tersebut telah menjadi cirinya yang khas. Dengan iringan musik pencak silat Yoyo memainkan emosi penonton untuk melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Tubuh Yoyo diakui dihiasi dengan otot-otot yang bagus dan seksi. Didukung dengan geraknya yang cepat dan tangkas mirip pesilat tangguh dalam cerita Wiro Sableng maka semakin percayalah penonton bahwa Yoyo memang pantas untuk dikerjai.

Nyatanya pandangan saya itu salah. Kiranya dengan tubuh seksi atau indah seperti itu tidak serta merta kita dapat melakukan apa saja, meski peluang untuk ngerjain Yoyo terbuka lebar. Sebab ada hal lain kiranya yang harus kita tonjolkan yakni soal bagaimana kita menghargai atau memperlakukan apa yang dinamakan indah dan yang jelek itu.



essay

tidak ada lagi negosiasi

seperti biasa,
langkah kaki masih saja penuh menginjak bumi yang mulai retak di sapu kemarau bulan ini, debunya sudah menutupi wajah yang kian lelah. hanya beberapa meter lagi aku berada di bawah jembatan layang yang merobek wajah kota bandung.

melihat mereka bekerja aku sempat melupakan beberapa peristiwa yang menyedihkan, penangkapan beberapa kawan aktivis, intimidasi masyarakat Balubur, dan entah berapa banyak kenangan. Jembatan ini mau tidak mau telah menjadi bagian hidup setiap orang yang melintasinya nanti.

entah dengan kebanggaan atau kepasrahan.

videoku hanya merekam mereka bekerja dan perubahan demi perubahan yang terjadi di sekitarnya. tak banyak..hanya beberapa detik saja.

suatu saat, mungkin harus mengalami peristiwa pengeboman, seperti di St.Pittersbugh atau Menara Kembar di Amerika yang luluh lantak. Tak ada negosiasi..begitulah hidup, dan begitulah nanti. sama sekali tidak ada ampun....kelelalahan hanya bisa dibayar dengan kegelapan.

salam hangat
frino

Friday, July 02, 2004

ESSAY

KEPERCAYAAN


Setelah dikejar-kejar oleh seorang perempuan cantik, akhirnya, kuputuskan juga untuk menuliskan cerita yang baru kudengar ini demi menjaga kepercayaannya. Jika Anda ingin menemukan hal baru dari cerita ini, cukupkan niatan itu. Anda takkan mendapatkannya dalam tulisan ini.

Beginilah kepercayaan itu kutuliskan,

Aku memanggilnya Lakilakilaki, memiliki penis yang masih bekerja dengan baik, rendah hati dan satu hal lagi yang selalu bikin iri laki-laki lain, wajahnya sukses alias tampan dan setia menjaga kepercayaan orang lain dan dirinya sendiri. Meski .....

Kepercayaan inilah yang nantinya membuat ia duduk termenung menyeruput kopi Lampung sembari memandang langit biru dan bertanya lagi, kenapa langit itu biru? Kenapa kopi ini harus diciptakan berwarna hitam tidak ungu? Kepercayaan inilah pada akhirnya yang membuat Lakilakilaki termangu-mangu.
Kepercayaan ini jugalah yang meyadarkan otaknya, bahwa mimpi tidak pernah berdosa, seperti mimpi indahnya saat bercinta dengan adiknya sendiri, tiap malam setiap tahun. Tapi ia tak buru-buru mengucapkan ampun untuk seluruh kenikmatan itu, ia tak pernah mengkhianati. Basah telah ada dimana-mana, di tengah, di sisi kanan, di sisi kiri, di depan atau belakang sprei. Adik perempuannya-lah yang selalu mencuci sprei itu sembari tak lupa bertanya, “Kak, ini lendir apa?”

“Inilah lendir kepercayaan,” jawab Lakilakilaki.

Ia sadar, hanya di dalam mimpi ia diberikan kebebasan untuk menciumi adiknya seperti mencium perempuan lain. Memeluk adiknya dengan nafsu yang membara seperti memeluk perempuan lain. Hanya di dalam mimpi ia bebas menjalin cinta dengan adiknya. Meski ia banyak peluang untuk merasakan seperti dalam mimpi saat adiknya yang bermata biru itu manja memeluknya. Dan dia sadar dada adiknya yang mulai mekar mampu menembus kelaki-lakiannya. Sekali lagi kenikmatan itu tak pernah ia khianati.

Sebentar... sebentar, kalian harus tahu juga bahwa ada pikiranku untuk melanjutkan mimpi Lakilakilaki menjadi kenyataan. Tapi ada keinginan lain yang lebih besar harus kutulis yakni soal kepercayaan yang setiap alinea telah kutuliskan. Karena kepercayaan itulah yang membuat adiknya dengan bebas memeluk kakaknya, bertelanjang di depan kakaknya saat mandi. Gadis bermata biru itu tahu, kakaknya tidak pernah berlaku kurang ajar meski ia diam-diam menggoda, ingin melihat reaksi kakaknya.

Ingin melihat apakah dirinya juga menarik meski itu di depan kakaknya sendiri. Ini penting untuk meningkatkan kepercayaan dirinya di dalam pergaulan, dimata laki-laki selain kakaknya. Tapi gadis bermata biru itu sempat merasakan hal berbeda tapi itu sepersekian detik. Dan tak sempat untuk mengecapnya lebih lama. Jadi pembaca terhormat kuputuskan untuk tidak melanjutkan mimpi Lakilakilaki, meski.....

Kepercayaan ini jugalah yang mengharuskannya membaca buku tentang bagaimana membuat perempuan merasa melayang-layang tanpa harus bersusah payah mengumbar kelaki-lakiannya. Bagaimana membuat perempuan itu merasa benar-benar terhormat di mata laki-laki sepertinya. Bagaimana membuat perempuan benar-benar dibutuhkan oleh laki-laki. Bagaimana membuat perempuan menjadi sangat berharga meski ia tak memiliki penis. Dia harus bisa menjadi lebih di mata perempuan.

Pandangan dari kepercayaan ini tidak sepenuhnya benar karena Lakilakilaki tetap memandang bahwa perempuan itu merasa harus dilindungi dengan kelaki-lakiannya. Inilah sistem budaya yang telah ia dapatkan sejak kecil. Dan akhirnya membentuk pola pikir yang mengharuskan perempuan merasa nyaman dalam pelukannya. Merasa perempuan belum saatnya menikmati hidup sendiri dan harus dibantu saat mulai mengambil keputusan. Perempuan dalam pandangannya memang harus dibantu meski bantuan itu hanya untuk membuat perempuan itu tersipu dengan ucapan,”Sungguh, kamu menarik.”

Semuanya telah ia pelajari dari buku, pengalaman hidup atau mendengarkan dongeng seperti yang kutulis saat ini. Ini demi kepercayaannya yang telah begitu kuat mengakar dalam hatinya, bahwa kepercayaan itu kelak akan membuat hidupnya terasa lebih bermakna.

Kepercayaan itu jugalah yang telah menghancurkan ceritanya selama 9 tahun bersama seorang perempuan yang ia temui di seberang bangkunya, saat sekolah dulu. Perempuan itu bermata terang, berambut hitam, mencintai hasrat. Perjalanan mereka untuk usia yang demikian muda sudah terhitung panjang tanpa status resmi seperti perkawinan. Mereka hanya pacaran.

Dalam pacaran kepercayaan itu juga ada. Meski tidak ada aturan tertulis mereka harus menjaganya. Kepercayaan ini harus tetap ada karena hanya dengan itu mereka berdua bisa bicara lebih lama, dalam dan saling memejamkan mata. Hanya dengan kepercayaan hati mereka yang tersembunyi bisa diketahui. Itulah kenapa kepercayaan tidak pernah dituliskan, diundang-udangkan, atau dilembagakan menjadi departemen kepercayaan dalam suatu sistem pemerintahan. Perlu bertahun-tahun lamanya dan sulit untuk meng-universalkannya, sulit membuat sebuah standard suatu kepercayaan. Meski itu mungkin. Tetapi kepercayaan itu ada dimana-mana seperti juga anda yang memberikan kepercayaan mata Anda kepadaku melalui tulisan ini.

Mereka, Lakilakilaki dan perempuan itu, telah membingkai hubungan dengan kepercayaan yang sedemikian rupa, jauh berbeda dengan kepercayaan Anda terhadapku. Sembilan tahun kepercayaan itu tumbuh besar dan berkembang. Tapi mereka tak pernah memetiknya.

Perempuan itu telah memintanya untuk memetik kepercayaan tersebut karena kepercayaan itu telah terpelihara, terjaga dan sebagainya dengan baik. Keduanya sadar banyak resiko yang harus dihadapi. Tapi kepercayaan itu harus dipetik karena ia adalah simalakama, tidak atau memetiknya kepercayaan itu tetap menginginkan hasil dan mengorbankan hal yang lain. Bagaimanapun caranya. Perempuan itu telah membulatkan keinginan. “Inilah yang harus kita petik bersama selama ini. Jika tidak ia akan membusuk tak berguna.” Tapi Lakilakilaki, tokohku ini percaya, ini belum waktunya untuk memetik kepercayaan tersebut.

Perempuan itu memintanya karena dia telah bosan hanya memegang, mengelus, dan menyentuh pelan-pelan. Ia tak bisa melampaui mimpinya jika kenyataan itu belum ia lewati. Perempuan itu menginginkan lebih seperti ajarannya sejak kecil dulu yang menuntut laki-laki harus lebih darinya. Walau mereka berdua yang menciptakan kepercayaan itu, Lakilakilaki tidak pernah mengabulkannya. “Jika tidak kau akan merasakan akibatnya, kepercayaan ini harus dipetik. Apapun hasilnya itu!” teriaknya memecah keheningan langit.

Anda yang membaca, disini juga kalian harus tahu bahwa ada keinginanku untuk mendengar suara perempuan yang bisa memecah keheningan langit. Bagaimana raut mukanya saat berteriak seperti itu? Apakah hanya metaforku saja untuk melukiskan keinginan yang tertunda? Apakah benar ada? Atau karena ini juga cerita, aku lebih nyaman menuliskannya begitu? Tapi setelah sekian hidup, setelah jutaan kali menghirup udara dan terpanggang matahari, aku belum diberi kepercayaan itu.

Balik ke cerita, dugaannya selama ini benar, laki-laki yang mencintainya tidak akan berani memetik kepercayaan itu. Meski kejapan mata, uluran tangan, liukan tubuh, bibirnya yang merekah mengiyakan itu semua. Kepercayaan itu tak juga ia petik. Maka perempuan itu selama separuh hubungan mereka diam-diam mencari-cari siapakah laki-laki yang berani memetik kepercayaan. Walau ia harus memulainya lagi dari awal, walau ia harus tiarap, dihujani peluru untuk mendapatkannya. Dia mendua untuk kepercayaannya yang tak dihargai, dia benci karena Lakilakilaki belum percaya dengan kepercayaan yang telah mereka ciptakan.

Lantas, selama sembilan tahun waktu pacaran bingkai itu berkeping-keping jadinya. Perempuan itu pergi meninggalkan kepercayaan Lakilakilaki. Sementara laki-laki itu masih percaya kepercayaan itu harus menunggu masanya baru benar-benar dipetik. Dalam pikirannya, "kau tidak pernah sabar, wahai perempuanku."
Tapi perempuan itu menjawab dalam pikirannya," Kau terlalu sabar untuk kemanusiaan ini, wahai laki-lakiku."

Mungkin keduanya lupa setiap mereka adalah berbeda rasa yang seharusnya dikombinasikan seperti falsafah Cina atau berpola laku seperti yang diajarkan dalam Yoga India.

Sudah kubilang di awal tadi, aku ingin seperti Lakilakilaki yang mampu menjaga kepercayaan. Artinya aku baru tahap ingin dan ‘sepertinya’ adalah tidak mirip sama sekali. Jika kalian menemukan Lakilakilaki dan perempuan itu, merekalah orangnya. Ciri-cirinya sudah kusebutkan di awal cerita ini. Baik, akan kutuntaskan cerita ini.

Sembilan tahun adalah waktu yang lama untuk menjaga kepercayaan tapi adalah singkat saat mengatakan tidak ada apa-apa alias nothing alias bullshit alias taik kucing dengan kepercayaan itu. Kalian pembaca yang terhormat harus tahu ada laki-laki sepertinya, yang sembilan tahun merindukan mimpinya hadir kembali bersama adiknya, selama sembilan tahun perempuan itu telah membuka semuanya dan ia basah dicelana dan sembilan tahun itu pula ia hanya sanggup bertanya-tanya, inikah hasil kepercayaan itu?

Sembilan tahun adalah waktu yang lama untuk menjaga kepercayaan tapi adalah singkat saat mengatakan tidak ada apa-apa alias nothing alias bullshit alias taik kucing dengan kepercayaan itu. Kalian pembaca yang terhormat harus tahu ada perempuan yang sepertinya, yang merasa nyaman di pelukan laki-laki idamannya tapi tak pernah mendapatkan benar-benar kepercayaan itu. Selama itu ia telah meminta kepercayaan itu dan ia akhirnya memetik bersama laki-laki lain. Salahkah dia?

Sudah seperti yang kalian duga, kepercayaan itu bisa muncul dari apa saja, dari puji-pujian, keterusterangan, tatapan yang lama, atau dari ketidaktahuan seseorang. Dan muncul dimanapun, di ruang ICU, museum, galeri, kantor, kamar kecil, tempat pelacuran, mimbar, atau di ketiak seorang janda. Bisa jadi kepercayaan itu setinggi keangkuhan manusia, sedalam hati manusia, setipis perasaan manusia, atau setebal kebebalan manusia, entahlah. Tapi kepercayaan selalu bermata dua apakah diminta atau tidak, suka atau tidak, selalu bersama pengkhiatan.

Bandung, 14 Mei 2003

* Tulisan ini pernah dimuat di newsletter Mosaik Sastra Universitas Islam Bandung, Mei 2003

Thursday, July 01, 2004

puisi

satu hari menjadi berarti
satu satu atau dua dua
dan tak terbilang hari
adalah mimpi
saat mata tak tertikam matahari

(keep in controversial!)

puisi

BATU

batu ini sepertiganya mencintai tanah
dua pertiganya lagi menginginkan matahari
kutulis demi kebahagiaan semata-mata
sembari memujuk angin yang lupa membawa harum seroja
seperti kau yang meronta pada bumi agar dilahirkan kembali
lengkap-melengkapi pada waktu senja yang tak terdefinisi

sepertiga batu ini menghitam saat aku menciummu dulu
menawarkan asmara yang tiada henti mengarah-arah
tapi dua pertiganya masih menunggu kita sentuh
berharap menjadi pualam untuk tubuh yang mulai melepuh

batu ini menunggu tengah malam untuk bicara
dalam bahasa cinta yang kaku
untuk mengartikan kembali denyut yang kita tinggalkan
saat telanjang diatasnya menunggu senja

sayang kau tak mau mendengarnya
mungkin terlalu takut menyapa kepedihan
yang bertahun lalu melekat dalam hidupmu
entahlah ....
nyatanya kebahagiaan tidak pernah tertulis dengan baik
begitu juga lukisan yang selalu sangsi dengan keindahannya sendiri

jika hari ini benar-benar bahagia
kenapa aku masih menuliskannya
di batu ini


1:32 AM
Bandung, 7 Februari 2003