Saturday, July 03, 2004

performance art

Fake Beauty Sebuah Visualisasi Kemarahan Sperma?

Oleh : Frino Bariarcianur

Anggaplah kantong plastik besar itu adalah kondom dan laki-laki di dalamnya adalah sperma yang meronta-ronta ingin keluar mencari ovum. Sperma itu tertahan dan berputar-putar di dalam kondom. Geraknya pelan dan kesakitan. Inilah visualisasi seni rupa pertunjukkan (performance art) yang dilakukan oleh Yoyoyogasmana berjudul “Fake Beauty”. Apakah yang ditawarkan Yoyo kali ini?

Kantong plastik besar itu dipenuhi dengan ranting-ranting kering dan ranting bambu. Kantong itu juga diisi dengan air. Sementara Yoyo yang bercelana renang meronta-ronta di dalamnya. Wajahnya kabur saat menempel di plastik. Di atasnya air terus mengalir mengisi kantong. Tak lama kemudian beberapa penonton mulai merespon Yoyo dengan mengambil tali kemudian melilitkannya pada plastik. Yoyo terjepit, tercekik, dan napasnya satu-satu. Penonton mulai panik.

Bicara soal kondom, ee maksud saya plastik besar tadi mengingatkan pada kehidupan kita sekarang yang telah dipenuhi dengan barang-barang ‘plastik’ (tiruan) dan menjadi bagian yang sulit untuk dipisahkan. Pada saat kita makan misalnya harus membuka plastik, minum kopi juga membuka plastik, sampai untuk membuat wajah cantik pun kita menamainya bedah plastik. Dari plastik yang berbentuk kantong misalnya, kita bisa membungkus sebuah cinderamata, membungkus buku, membungkus buah, dan membungkus mayat. Pada peristiwa pembunuhan bukankah mayat-mayat seringkali ditemukan di dalan kantong plastik juga? Pendek kata, sejauh kita memandang sedekat kita meraba, plastiklah yang ada.

Secara filosofis ‘plastik’ sangat memungkinkan untuk membungkus keaslian yang tidak kita kehendaki. Bahkan kita dapat membungkus kematian itu sendiri. Inilah yang saya maksud bahwa Yoyo tidak saja ingin menyoal lagi apa itu keindahan dari tubuhnya yang sakit terlilit tali. Lebih dari itu bahwa performance art ini juga menyoal bagaimana tubuh yang ‘plastik’ itu telah menindas dan menipu tubuh yang lain. Di sini saya ingin menyatakan bahwa disisi lain penggunaan kondom itu juga dapat dikategorikan sebagai prilaku penindasan. Dan tubuh tertindas yang dimaksud adalah sperma itu sendiri.

Sperma itu sendirian di dalam kondom. Dalam proses pembentukan tubuhnya yang tak lazim, ia dicampur dengan ranting-ranting kering juga ranting bambu sedikit dicampur air. Itu dilakukan demi menciptakan manusia yang indah dilihat. Selama pemerosesan sperma terus meronta dan berjuang mati-matian ingin lepas dari proses yang menindas itu. Sayang ia tak memiliki suara dan manusia (penonton) masih terus melilitkan tali pada kondom. Sperma itu mulai melemah.

Di luar pertunjukkan tersebut, dalam kehidupan manusia, pada titik orgasme kita tak pernah tahu bagaimana reaksi milyaran sperma –yang kata ahli kedokteran akan mati selang dua jam—saat berada di dalam kondom. Bukankah secara alamiah sperma itu seharusnya berenang masuk ke rahim dan berlomba-lomba bertemu ovum? Nyatanya ia tidak bertemu dengan ovum malah dicampur dengan bermacam-macam barang. Katakanlah jika sperma itu memiliki keinginan maka itu hanyalah mimpi. Dan mungkin saja seperti itulah visualisasi kemarahan sperma yang tak bertemu ovum.

Sperma itu pasrah saat banyak manusia campur tangan dalam proses pembentukannya sebagai manusia. Ia benar-benar tak berdaya. Akhirnya kondom yang terikat erat itu pecah –seperti ketuban bayi yang lahir—lalu beberapa orang membuka satu demi satu, sobekan demi sobekan plastik yang membungkus manusia yang diinginkan indah. Secara samar mulai terlihat manusia hasil dari proses gila itu. Tubuhnya dipenuhi dengan ranting-ranting dengan lilitan tali yang mencekat peredaran napasnya. Terlihat indah(?) tapi tubuh itu kesakitan! Manusia yang menyaksikannya bertepuk tangan. Prosesi ini telah berhasil seratus persen.

Seni rupa pertunjukkan berjudul “Fake Beauty” yang disuguhkan oleh penggerak Bandung Performance Art Community (B+PAC) ini digelar dua kali di Selasar Sunaryo Art Space Bandung, (26-27/7). Menurut Yoyo, ia harus melakukannya karena pada pertunjukkan pertama ia belum mendapatkan “orgasme”. Katakanlah pada pertunjukkan awal, masih ada kesalahan teknis seperti kantong yang terlalu cepat pecah.

Belum lagi kedua anaknya si Mahesa Jiway (7) dan Arya Syahjenar (4) yang tidak mau diajak ber-performance art karena lebih tertarik dengan video game. “Ya sudah, saya tidak memaksa,” kata Yoyo. Pada pertunjukkan pertama kedua anak ini memang cukup piawai memainkan perannya. Bisa jadi mereka menganggap bahwa performance art tak ubahnya seperti bermain. Alangkah menyenangkan.

Pada pertunjukkan ke dua memang tidak jauh berbeda, hanya saja lebih interaktif. Ini terlihat dari penonton yang antusias melilit tubuh Yoyo. Efek kesengsaraan dan kesakitan itu pun lebih jelas terlihat. Sejak awal seniman seni rupa pertunjukkan yang seringkali bermain dengan tali ini memang berniat memanas-manasi penonton untuk melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Akibatnya ada bagian tubuh Yoyo yang lecet dan terluka.

Keterlibatan emosi dan respon destruktif penonton dalam seni rupa pertunjukkan tersebut telah menjadi cirinya yang khas. Dengan iringan musik pencak silat Yoyo memainkan emosi penonton untuk melakukan sesuatu terhadap tubuhnya. Tubuh Yoyo diakui dihiasi dengan otot-otot yang bagus dan seksi. Didukung dengan geraknya yang cepat dan tangkas mirip pesilat tangguh dalam cerita Wiro Sableng maka semakin percayalah penonton bahwa Yoyo memang pantas untuk dikerjai.

Nyatanya pandangan saya itu salah. Kiranya dengan tubuh seksi atau indah seperti itu tidak serta merta kita dapat melakukan apa saja, meski peluang untuk ngerjain Yoyo terbuka lebar. Sebab ada hal lain kiranya yang harus kita tonjolkan yakni soal bagaimana kita menghargai atau memperlakukan apa yang dinamakan indah dan yang jelek itu.



0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home